Zulfa, Abdul Muin and Indrajaya, Indrajaya and Ahmad, Nangsari (1991) Dampak sosial budaya akibat menyempitnya lahan pertanian desa Sribandung Propinsi Sumatera Selatan. Bagian Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Propinsi Sumatera Selatan, Palembang.

[img]
Preview
Text (Buku ini berisi penjelasan tentang dampak sosial budaya akibat penyempitnya lahan pertanian)
DAMPAK SOSIAL BUDAYA AKIBAT PENYEMPITANNYA LAHAN PERTANIAN DESA SRIBANDUNG SUMSEL.pdf - Published Version
Copyright All Rights Reserved

Download (37MB) | Preview

Abstract

1. Perubahan yang pasti terjadi sebagai akibat penyempitan lahan pertanian adalah berubahnya cara bertani "berladang" menjadi bertani "menetap". Ini ter jadi karena lahan yang dimiliki amat sempit dan tidak mungkin pindah-pindah lagi. Lokasi pertanian penduduk Sribandung sebagian ada yang tetap di daerah desa Sribandung karena masih memiliki sisa lahan, tetapi ada sebagian penduduk yang mencari lahan dengan cara "pancung tebang alas" di desa lain dan mengusahakan lahan tersebut secara rnenetap. Oleh karena itu tanah diolah terus-menerus sehingga caranya intensif daripada cara bertani berladang.
2. Walaupun lahan pertanian semakin sempit, namun belum terlihat gejala atau kecenderungan petani mengubah jenis tanaman sesuai dengan lahan sempit. Punahnya kayu berkualitas tinggi (unglen) dan kayu bakar berkualitas baik (pelawan) menyebabkan hilangnya sumber mata pencaharian tambahan penduduk Sribandung.
3. Akibat lebih lanjut dari sulitnya kayu untuk membangun rumah bagi penduduk dan harga kayu untuk rumah relatif tinggi jika dibanding dengan tingkat pendapatan penduduk, maka dua tahun terakhir ini penduduk membangun rumah dari batu bata dengan ukurannya lebih kecil, daripada ukuran sebelum penyempitan lahan. Hal ini dapat dipastikan ada kaitan dengan penyempitan lahan yang mengakibatkan punahnya jenis pohon yang biasa digunakan penduduk Sribandung untuk
membangun rumah.
4 . Pada saat ini, belum terlihat penduduk secara berencana mengalihkan fungsi sisa lahan yang ada kepada fungsi lain. Besar kemungkinan sisa lahan yang ada sekarang akan menjadi lokasi pembangunan rumah penduduk di masa mendatang. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi dan tidak ada lahan lain untuk lokasi perumahan.
5. Tingkat mobilitas penduduk menjadi lebih tinggi dalam usaha mereka untuk memenuhi kebutuhan. Karena tipe mobilitasnya tidak penuh, yaitu ada yang migrasi itu bapak saja, atau ada bapak-ibu saja sedangkan anak-anak mereka tinggal di Sribandung, maka dalam masyarakat terdapat pergeseran fungsi orangtua kepada anggota keluarga lainnya.
6. Perubahan sumber penghasilan secara nyata terjadi pada sebagian kecil penduduk, yaitu penduduk yang menjadi buruh pada PTP XXI/XXII. Yang penting adalah tambahan sistem kerja penduduk dari kerja secara tradisional menjadi kerja yang formal, yaitu perburuhan.
7. Penguasaan lahan oleh PTP XXI/XXII melalui rencana Pemerintah. Namun, prosedur penguasaan lahan telah menimbulkan rasa tidak puas penduduk Sribandung. Rasa ketidakpuasan itu telah membawa solidaritas penduduk yang lebih tinggi dan mereka tidak menerima ganti rugi yang diberikan pemerintah.

Item Type: Book
Subjects: Pendidikan > Kebudayaan > Kearifan lokal
Pendidikan > Kebudayaan > Masyarakat Adat
Pendidikan > Kebudayaan > Penelitian kebudayaan
Divisions: Direktorat Jenderal Kebudayaan
Depositing User: Sekretariat Ditjen Kebudayaan
Date Deposited: 05 Feb 2024 02:48
Last Modified: 05 Feb 2024 02:48
URI: http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/29690

Actions (login required)

View Item View Item