Pojoh, Ingrid H.E. dkk and Santiko, Hariani and Winaya, Atina and lnagurasi, Libra Hari and Marzuki, Irfanuddin W. (2015) AMERTA 33 nomor 2. AMERTA, 33 (2). pp. 77-134. ISSN 0215-1324

[img]
Preview
Text (penelitian tentang Percandian Muarajambi yang berasal dari abad ke-7-8,data arkeologi tentang berbagai ragam hias dengan motif ular-naga yang tersebar di berbagai situs sakral di Jawa Timur dari periode abad ke-13-15, perspektif pelestarian warisan buday)
amerta33(2).pdf - Published Version

Download (26MB) | Preview

Abstract

Ingrid H.E. Pojoh, Dian Sulistyowati, Rizky Fardhyan, Arie Nugraha, dan Dicky Caesario
Sistem lnformasi Arkeologi: Pangkalan Data Berbasis Daring untuk Perekaman Data Artefak Tembikar dan Keramik di Kawasan Percandian Muarajambi
Kegiatan perekaman data arkeologi sampai sekarang masih menjadi permasalahan tersendiri baik dari segi keterbukaan informasi maupun ketersediaan sarana perekaman data yang terintegrasi. Sistem pangkalan data merupakan salah satu pemecahan mengenai permasalahan tersebut. Manajemen data dan pembuatan konten pangkalan data menunjukan integrasi dari dua ilmu yang berbeda sehingga dapat menghasilkan suatu instrumen perekaman data berbasis dalam jaringan (daring), yaitu suatu cara berkomunikasi yang penyampaian dan penerimaan pesan dilakukan dengan atau melalui jaringan internet. Untuk pengguna, aplikasi ini dapat berfungsi sebagai wadah untuk melakukan penjajakan dalam rangka melakukan penelitian. Untuk pengisi, pangkalan data ini merupakan salab satu instrumen perekaman data yang dapat menghemat waktu dan tenaga. Untuk mabasiswa, pangkalan data ini juga merupakan sarana pembelajaran untuk mempertajam kemampuan analisis. Kegiatan ini berfokus pada pembuatan sistem pangkalan data berbasis daring untuk temuan-temuan tembikar dan keramik yang ditemukan di Kawasan Percandian Muarajambi.

Hariani Santiko
Ragam Hias Ular-Naga di Tempat Sakral Periode Jawa Timur
Tinggalan Arkeologi dari masa Hindu-Buddha di Jawa Timur ( a bad ke-10-16), di antaranya berupa rag am bias ular­naga (ular dengan ciri-ciri fisik naga) yang digambarkan sendiri, maupun bersama tokoh garu<;la. Ragam bias ular­naga ini ditemukan di kompleks percandian, pemandian suci (patirthan), dan di gua-gua pertapaan. Menarik perbatian adalah, ragam bias jenis ini tidak ditemukan pada kepurbakalaan masa sebelurnnya, yaitu masa Hindu­Buddha di Jawa Tengah (abad ke-6 sampai awal abad ke- 10). Untuk mengetabui gagasan yang melatari dipilihnya artefak tersebut, akan diterapkan metode arkeologi­sejarah, yaitu metode yang menggunakan data artefaktual dan data tekstual, berupa naskah-naskah atau prasasti. Kemunculan garu<;la bersama ular-naga ini, dikemukakan babwa para seniman Jawa Kuno menggunakan cerita Samudramantbana (Amrtamanthana) dan cerita Garu<;leya. Kedua cerita tersebut menceritakan pengambilan dan perebutan air suci amrta (air suci, air penghidupan) antara dewa (.fora) dan asura. Ragam bias ular-naga terdapat pada Pemandian Jalatunda, Candi Kida! dan Candi Jabung, Candi Panataran, Candi Kedaton dan sebagainya. Dipilihnya cerita Samudramanthana dan Garu<;leya terkait dengan mitologi gunung dalam agama Hindu, yang merupakan "tangga naik" ke tempat dewa-dewa di puncaknya. Candi adalah bentuk miniatur dari Mahameru tersebut, tempat amrta yang dijaga oleh ular-naga.

Atina Winaya
Peran Museum Majapahit sebagai Mediator Pelesta­rian Warisan Budaya dan lndustri Pembuatan Bata
Trowulan, situs arkeologi yang diduga merupakan ibukota Kerajaan Majapahit, mengalami kerusakan yang semakin hari semakin parah seiring dengan perkembangan industri pembuatan bata oleh masyarakat setempat. Museum Majapahit adalab salah satu pibak yang dapat tampil dalam upaya menekan, atau bahkan mengbentikan, laju pertumbuban dan perkembangan industri pembuatan bata tersebut. Penelitian dilakukan untuk memberikan suatu rekomendasi terhadap pengembangan Museum Majapahit pada masa mendatang agar dapat berperan sebagai mediator yang menjembatani kepentingan pelestari budaya (baik pemerintah, arkeolog, akademisi, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat) dengan masyarakat Trowulan, khususnya para pembuat bata. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif melalui observasi dan studi literatur, disertai analisis berdasarkan pendekatan new museology dan pendekatan cultural resources management. Berdasarkan basil penelitian, Museum Majapahit diharapkan berperan sebagai media yang mampu menanamkan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat setempat mengenai pentingnya kelestarian Situs Trowulan. Situs yang lestari akan memberikan manfaat dan dampak positif terhadap tiga aspek di dalam kehidupan masyarakat, yaitu aspek ideologis, akademis, dan ekonomis.

Libra Hari lnagurasi
Tambang Batu Bara Oranje Nassau, Kalimantan Selatan, dalam Pandangan Arkeologi Industri
Aktivitas pertambangan batu bara di Indonesia dimulai pada a bad ke-19. Dalam tulisan ini dikemukakan tinggalan arkeologi dari situs tambang batu bara tertua di Indonesia, yakni tambang batu bara Oranje Nassau. Lokasi situs berada di Desa Pengaron, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Kronologi situs berasal dari tahun 1849 (abad ke-19). Oranje Nassau merupakan tambang batu bara yang diusahakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Ketika didirikan, lokasi tambang itu menempati wilayah milik Kesultanan Banjarmasin. Tulisan ini bermaksud memberikan gambaran mengenai awal perkembangan industri di Indonesia melalui tambang batu bara tertua Oranje Nassau. Adapun tujuan tulisan ini adalah mengidentifikasi jenis, fungsi, dan hubungan antar tinggalan tambang batu bara dengan menggunakan pendekatan Arkeologi lndustri (Industrial Archaeology). Metode yang digunakan adalah deskriptif, historis, dan analisis kontekstual. Hasil yang telah diperoleh yakni teridentifikasinya peninggalan-peninggalan tambang batu bara kuno berasal dari masa Hindia Belanda. Peninggalan peninggalan tersebut merupakan fasilitas kegiatan penambangan batu bara seperti bangunan monumental untuk menempatkan mesin, sumur lubang galian batu bara, lorong, terowongan, lantai dibuat dari bahan bata, dan roda besi. Berdasarkan basil penelitian diketahui bahwa tambang batu bara merupakan teknologi yang berasal dari luar atau teknologi yang diimpor dari Eropa, bukan asli Indonesia.

lrfanuddin W. Marzuki
Konflik dan Penyelesaian dalam Penelitian Arkeologi di Wilayah Kerja Balai Arkeologi Manado
Konflik antara masyarakat dengan tim penelitian arkeologi dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat akan nilai penting penelitian arkeologi dan kornunikasi yang tidak terjalin dengan baik. Konflik yang pernah terjadi pada kegiatan penelitian di wilayah Kerja Balai Arkeologi Manado berupa penelitian Situs Loga Desa Pada, Kabupaten Poso dan Situs Leang Tuo Mane'e di Kabupaten Talaud. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan konflik yang terjadi dalam penelitian arkeologi di wilayah kerja Balai Arkeologi Manado dan mencari jalan keluamya sehingga dapat diselesaikan, serta tidak terjadi lagi pada masa mendatang. Metode

Item Type: Article
Subjects: Pendidikan > Kebijakan Umum Kemendikbud > Penelitian dan Pengembangan
Divisions: Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan > Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Depositing User: Mrs Murnia Dewi
Date Deposited: 25 Apr 2017 05:10
Last Modified: 25 Apr 2017 05:10
URI: http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/1297

Actions (login required)

View Item View Item