Indriastuti, Kristantina and Siregar, Sondang Martini and Purwanti, Retno and Fahrozi, M. Nofri and Novita, Aryandini and Wiyana, Budi and Andhifani, Wahyu Rizky and Amilda, - and Irwanto, Dedi and Rudito, Bambang and Saharuddin, - (2015) Peradaban masa Lalu Sumatera Selatan. Balai Arkeologi Palembang, Palembang. ISBN 978-602-8816-83-0

[img] Text
Peeradaban Masa Lalu Sumatera Selatan.pdf

Download (21MB)

Abstract

Daerah aliran sungai Musi yang berhulu di daerah kaki Bukit Barisan telah memiliki sejarah keudayaan yang cukup lama.
Jauh di daerah hulu sungai Musi di dataran tinggi Pasemah banyak terdapat tinggalan budaya masa lampau. Hasil kebudayaan Pasemah masih dapat dijumpai dalam bentuk monumen seperti bilik batu. Adanya tinggalan budaya ini merupakan petunjuk adanya pemujaan terhadap arwah nenek moyang yang dihubungkan dengan ceritera "Si Pahit Lidah". Bangunan megalitik sebagai sarana penunjang pemujaan upacara dapat memberikan gambaran masyarakat pertanian masa prasejarah, dan memberikan gambaran masyarakat pertanian masa prasejarah, dan telah memberikan warna terhadap kemajuan peradaban manusia yang berbasiskan sistem bercocok tanam.
Di lokasi lain kawasan Bukit Barisan di sekitar Danau Ranau ditemukan kelompok masyarakat "pemuja" bangunan-bangunan megalitik. Selain itu ada kelompok masyarakat yang sudah mengenal budaya India. Tinggalan budaya ini diwujudkan dalam candi yang ditemukan di daerah Jepara. Bangunan ini dibuat dari batu andesit yang pertanggalannya dari sekitar abad X Masehi.
Masih di kaki pegunungan Bukit Barisan wilayah Musi Rawas terdapat beberapa bangunan suci pengaruh kebudayaan India. Keberadaan bangunan suci tersebut menunjukkan daerah tepian sungai yang dipilih untuk penempatan bangunan bagi masyarakat pemeluk ajaran Buddha dan Hindu.
Kebudayaan manusia di daerah aliran Sungai Musi terus berkembang hingga muncul sebuah kerajaan besar Sriwijaya(Abad VII) dan Kesultanan Palembang Darussalam (Abad XVI). Kelompok masyarakat yang hidup masa -masa tersebut menggunakan sungai sebagai jalur transportasi dari hulu ke hilir tidak lain karena faktor keadaan setempat di mana di kota ini bermuara sungai-sungai besar yaitu Ogan, Komering dan Kramasan. Karena Palembang mempunyai lokasi yang strategis banyak para saudagar membawa dagangannya dari hulu untuk dipasarkan di Palembang.
Sebagai sebuah tempat yang bergantung pada sungai, maka moda transportasi air di perairan musi adalah perahu yang sedikit mendapat pengaruh budaya Asia Tenggara adalah jenis Kajang. Hingga tahun 1980-an jenis perahu Kajang dipakai untuk membawa barang-barang tembikar dari Kayuagung melalui Sungai Komering, Sungai Musi hingga tiba di Pasar 16 Ilir Palembang.
Sebagai sebuah pasar, di Palembang berkumpul orang-orang dari berbagai tempat di Asia seperti Tiongkok dan Arab. Baik orang Tiongkok dan Arab tetap berpegang teguh pada adat istiadat masing-masing. Tradisi yang kuat tersebut terpancar dalam simbol-simbol yang mereka tuangkan dalam arsitektur rumah mereka. Khususnya di Kampung Al-Munawar (rumah orang Arab di Palembang) mempunyai simbol-simbol tertentu.
Berdasarkan sumber-sumber prasasti Sriwijaya, bahasa Melayu kuno mulai dipakai abad VII masehi. Sebagai bahasa Lingua Franca (pergaulan) yang termasuk dalam rumpun Austronesia, bahasa Melayu tidak mengenal aksara sendiri, dan dituliskan dalam aksara Jawi yang dikenal dengan "Arab gundul". Di daerah Sumatera Selatan selain ditulis dalam prasasti batu juga ditulis dalam naskah ulu dan aksara Jawi.
Keberadaan budaya materi akan mencerminkan identitas suatu masyarakat pemiliknya. Budaya materi juga mempresentasikan sebuah sistem sosial dan nilai suatu masyarakat. Bukti-bukti arkeologis Sumatera Selatan menunjukkan bahwa budaya materi mempresentasikan konsep ulu ilir yang mencerminkan perbedaan identitas budaya yang berbeda.
Berdasarkan hasil analisis terhadap konsep dan konstruksi kultural dari setiap perbedaan etnis di daerah uluan Sumatera Selatan, yang ditempatkan pada konsepsi kepuyangan dapat dikatakan bahwa di masa lalu secara etnisitas, budaya dan politik di Sumatera Selatan, konsep puyang dan genealogisnya memainkan peranan dalam perbedaan konteks budaya yang dipisahkan dalam bentuk divisi politik yang disebut marga.
Dalam pembangunan di daerah Sumatera Selatan yang memperhatikan kearifan lokal, kesejahteraan masyarakat dapat terjadi, khususnya penanggulangan kemiskinan. Kearifan lokal menjadi suatu kunci bagi keberhasilan pengembangan masyarakat yang bersifat majemuk dan multi kultur di daerah Sumatera Selatan.

Item Type: Book
Subjects: Pendidikan > Kebudayaan > Penelitian
Pendidikan > Kebudayaan > Arkeologi
Pendidikan > Kebudayaan > Warisan budaya
Pendidikan > Buku Sekolah
Divisions: Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan > Pusat Penelitian Arkeologi Nasional > BALAR Sumatera Selatan
Depositing User: Mr. Titet Fauzi Rachmawan
Date Deposited: 07 Nov 2018 09:11
Last Modified: 07 Nov 2018 09:11
URI: http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/7287

Actions (login required)

View Item View Item