KALPATARU Majalah Arkeologi vol 23 nomor 2

Simanjuntak, Harry Truman and Rangkuti, Nurhadi and Susetyo, Sukawati and Djafar, Hasan and Wibisono, Sonny C (2014) KALPATARU Majalah Arkeologi vol 23 nomor 2. KALPATARU Majalah Arkeologi, 23 (2). pp. 81-149. ISSN 0126-3099

[img]
Preview
Text (Sriwijaya for Our Nation, Hunian "Pra-Snwijaya" di Daerah Rawa Pantai Timur Sumatera, Makara Pada Masa Snwijaya,The Structure of Stiipas at Muara Jambi,)
KALPATARU VOL23.NO 2.pdf - Published Version

Download (23MB) | Preview

Abstract

Sriwijaya for Our Nation
Oleh: Truman Simanjuntak, Pusat Arkeologi Nasional
Srivijaya Kingdom that centered in South Sumatera is one of the highest peak of culture in the Indonesian Archipelago. The kingdom evolved from 71n to 131n Century AD. Several achievements that made Srivijaya Kingdom become a great maritime country and very influential in South East region are as follows, commanded the trade route in Malaka Strait and Sunda Strait; had a trade relations with China, India, Arab, Persia, and Madagascar; built a strategic area as a maritime base for commercial interest and sovereignty protection; built a Buddhist and Sanskrit center; and also built tolerance to religions in society. Srivijaya is not just a knowledge from the past, it should bring benefits to Indonesia as a nation. The spirit of actualization, the greatness, and the culture and historical values should inspire and motivate Indonesian people to build a great archipelagic nation. The knowledge of Srivijaya could be inherited through formal and informal education, and social activities such as sports activities, arts activities, and cultural activities. Another strategic way is to build "Rumah Peradaban Sriwijaya" (House of Srivijaya Civilization). Rumah Peradaban Srivijaya is a building complex that embodies a research and information center, museum as an educational and social facility, and also public space.

Hunian "Pra-Sriwijaya" di Daerah Rawa Pantai Timur Sumatera
Oleh: Nurhadi Rangkuti, Balai Arkeologi Nasional
Keberadaan Sriwijaya di Sumatera ditandai oleh adanya prasasti-prasasti dari abad ke-7 M. di Palembang, Jambi dan Larnpung. Sebagian besar prasasti dan situs­situs arkeologi dari masa Sriwijaya (abad ke-7-13 M.) terdapat di daerah lahan basah sebagai bagian dari wilayah pantai timur Sumatera. Penelitian arkeologi selama dua puluh tahun terakhir di daerah tersebut berhasil menemukan situs-situs arkeologi pada masa pra-Sriwijaya antara lain berupa situs kubur tempayan dan situs hunian. Penemuan situs-situs masa pra-Sriwijaya itu menunjukkan bahwa sebelum Sriwijaya berkembang di Palembang dan Jambi, daerah rawa telah dimukimi oleh komuniti-komuniti kuno. Penelitian mengkaji lebih jauh pola hidup masyarakat kuna tersebut dalam berinteraksi dengan lingkungan rawa. Penelitian dilakukan dengan pendekatan "landscape archaeology", survei dan ekskavasi untuk pengumpulan data, serta analisis carbon dating (C-14) dan tipologi artefak untuk mengetahui pertanggalan situs. Hasil penelitian memberikan gambaran mengenai pola persebaran situs antara situs kubur tempayan dan situs bunian di daerab rawa.

Makara Pada Masa Sriwijaya
0/eh: Sukawati Susetyo, Pusal Arkeologi Nasional
Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar di Indonesia pada abad ke-7-12 M. Tinggalan bangunan suci dari masa Sriwijaya tersebar di beberapa kawasan, yaitu Muara Jambi di Jambi, Muara Takus di Riau, Bumiayu di Sumatera Selatan, hingga beberapa kelompok bangunan suci Padang Lawas di Sumatera Utara. Makara merupakan salah satu unsur bangunan candi yang biasanya berpasangan dengan kala. Tujuan penulisan ini adalah ingin mengetahui ciri-ciri makara dari masa Sriwijaya dengan cara membandingkannya dengan makara-makara dari candi masa Mataram Kuno. Dari basil penelitian selama ini diketahui bahwa makara Sriwijaya mempunyai ciri tersendiri, meskipun tidak mena:fikan adanya beberapa kesamaan dengan makara dari masa Mataram Kuno tersebut.
The Structure of Stiipas at Muara Jambi
0/eh: Hariani Santiko, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
In the vicinity of Muara Jambi are found a lot of archaeological remains, among others a group of brick monuments believed to date from the 9m to 13m Century AD, among others are Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Gedong I and II, Candi Kedaton, Candi Astano. These monuments are Buddhist, because the majority of the finds in this area are Buddhist statues, many bricks with "bija mantra" inscriptions and drawing such as padma motives on them. The structures of the main temple, except Candi Gumpung, are generally square in plan with projecting portico on the east or north, and terrace platform that may well served for the enthronement of the big stiipa like the one at Candi Tinggi. The type of this stiipa structure is called the terrace-stiipa, known for the first time in the Gandharan regions from pre­Kushana period. In Indonesia terrace-stiipas are found at Muara Takus (Candi Tua) and also candi Borobudur in Central Jawa. Candi Gumpung has different structure, a square ground plan measuring 18 x 18 metres without any trace of an inner-room (garbhagrha). Boechari in 1985 read the inscriptions found in the deposit boxes found inside the temple floor. He recognized the plan of Vajradhatu-ma1;H;iala found in the base of candi Gumpung. It means that candi Gumpung is a Vajrayana temple and it embodies the mru;i9ala of the five Tathagath as with Wairocana in the centre. So I assume that the first can di Gumpung in the 9-1 om Century was a square platform with five stiipas on it to form the Vajradhatu-mru;i9ala. By studying the archaeological data from Muara Jambi and comparing them with the monuments from Muara Takus and Biaro Bahal, I consider the remains of brick monuments at Muara Jambi belonged to stilpas, especially the terrace-stiipas.

Invasi Sriwijaya ke Bhiimijawa: Pengaruh Agama Buddha Mahayana
dan Gaya Seni Nalanda di Kompleks Percandian Batujaya
Oleh: Hasan Djafar, Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta
Paper ini membahas pengaruh invasi Sriwijaya ke Bhumijawa (Tarumanagara) pada akhir abad ke-7 M. Fokus pembahasan adalah pengaruh Agama Buddha Mahayana dan gaya seni Nalanda di kompleks percandian Batujaya, Karawang, Jawa Barat. Hasil penelitian di Batujaya selama periode 1985-2006 telah menghasilkan beberapa buk:ti baru penyebaran Agama Buddha Mahayana dan gaya seni Nalanda di Kompleks percandian Batujaya.
Arkeologi Natuna: Koridor Maritim di Perairan Laut Cina Selatao
Oleh: Sonny C. Wtbisono, Pusat Arkeologi Nasional, Jakarta
Salah satu episode sejarah yang menarik untuk dicermati selama masa pertumbuhan dan perkembangan Sriwijaya adalah berlangsungnya kegiatan niaga jarak jauh. Dalam kronik Cina cukup jelas dicatat, kerajaan yang pusatnya di Sumatera ini, telah mengirimkan lebih dari dua puluh misi perniagaan ke Cina antara abad ke-10-13 M., demikian pula sebalik:nya. Kawasan perairan Laut Cina Selatan, merupakan jalur yang semakin intensif dilalui pada masa itu. Permasalahan yang menjadi fokus perhatian dalam tulisan ini tentang studi arkeologi di wilayah kepulauan khususnya di Laut Cina Selatan yang dipandang patut diteliti untuk menelusur jejak jalur perniagaan jarak jauh antara Cina dan Nusantara, terutama hubungannya deogan masa Sriwijaya. Di samping penelitian terhadap bandar-bandar di sepanjang pantai Benua Asia Tenggara Daratan, pada kenyataan banyak kepulauan kecil yang sangat mungkin menjadi ''batu loncatan" dalam perjalanan niaga yang selama ini luput dari perhatian seperti Kepuluan Paracel, Spratley, Anambas, dan Natuna. Pulau ini merupakan salah satu gugusan pulau-pulau kecil yang berhadapan dengan Laut Cina Selatan, menempati posisi persilangan jalur untuk memasuki perairan Malaka, Sumatera, dan Kalirnantan. Dalam tulisan ini akan disajikan bukti-bukti arkeologis, dari basil survei dan ekskavasi Natuna tahun 2012-2014, termasuk data situs dan artefaktual. Keramik sebagai indikator perniagaan dianalisis khusus (kualitatif dan kuantitatif) untuk perbandingan.

Item Type: Article
Subjects: Pendidikan > Kebijakan Umum Kemendikbud > Penelitian dan Pengembangan
Divisions: Badan Penelitian dan Pengembangan > Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Depositing User: Mrs Murnia Dewi
Date Deposited: 05 May 2017 23:37
Last Modified: 05 May 2017 23:37
URI: http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/1335

Actions (login required)

View Item View Item