KALPATARU Majalah Arkeologi vo. 22 nomor 1

Tanudirjo, Daud Aris and Lapian, Adrian B and Handoko, Wuri and Ririmasse, Marlon NR and Mansyur, Syahruddin (2013) KALPATARU Majalah Arkeologi vo. 22 nomor 1. KALPATARU Majalah Arkeologi, 22 (-). 01-60. ISSN 0126-3099

[img]
Preview
Text (Interaksi Regional dan Cikal Baka! Perdagangan Internasional di Maluku,Wilayah Maluku dalam Konteks Perdagangan Intemasional,Pemiagaan dan Islamisasi di Wilayah Maluku, Pelayaran dan Perdagangan Masa Lalu di Kepulauan Maluku Tenggara , Perdagangan Cengk)
kalpataru 22 no 1.PDF - Published Version

Download (65MB) | Preview

Abstract

Interaksi Regional dan Cikal Bakal Perdagangan Internasional di Maluku
0/eh: Daud Aris Tanudirjo, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada
Sejarah telah mencatat peran penting Kepulauan Maluku dalam jejaring perdagangan intemasional setidaknya sejak awal abad Masehi. Beberapa sumber sejarah kuno memberikan kesaksian keberadaan cengkeh di tempat-tempat yang jauh dari sumber tanaman endemik Maluku ini. Naturalis Romawi, sejarah Dinasti Han (abad 2 SM - 2 M), menuliskan tentang adanya rempah­rempah (cengkeh, chi-she, ting-hsiang) yang didatangkan dari Mo-wu atau Maluku (Wolters, 1967). Jejaring perdagangan yang melibatkan Maluku memuncak sekitar abad ke-16 tidak lama setelah orang-orang Eropa mulai menjelajahi lautan untuk mencari "emas hijau" ini di tempat asalnya. Peran penting Maluku dalam jejaring perdagangan dunia adalah salah satu puncak proses evolusi budaya yang berakar dari interaksi regional yang telah terjadi sejak ribuan tahun sebelumnya. Makalah ini mencoba menelusuri kembali cikal bakal dan perjalanan panjang sejarah terbentuknya jejaring perdagangan intemasional di kawasan Maluku ini.
Wilayah Maluku dalam Konteks Perdagangan Internasional
0/eh: Adrian B. Lapian, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
Kepulauan Maluku senantiasa melekat dengan peran sebagai kawasan sumber komoditi eksotik seperti cengkeh dan pala. Nilai tinggi rempah sebagai komoditi telah mendorong Maluku ke dalam kontak dan interaksi dengan dunia luar semenjak berabad silam dan membentuk suatu kawasan niaga yang dinamis pada masa itu. Kondisi ini mencapai puncaknya menyusul kedatangan orang­orang Eropa yang kemudian menetapkan hegemoni mereka atas aktivitas perdagangan rempah di wilayah ini sebagaimana tergambar dalam dominasi Belanda secara historis. Laut Banda dan Laut Arafura menjadi dua kawasan sentral dalam aktivitas niaga masa lalu di Kepulauan Maluku. Peran yang sama masih ditemukan hingga saat ini. Makalah ini mencoba meninjau peran wilayah Maluku dalam konteks perdagangan internasional di masa lalu dengan berpijak pada sumber­sumber historis yang menjelaskan tentang peran dua kawasan sentral Laut Banda dan Laut Arafura. Refleksi atas kondisi terkini dua wilayah niaga penting di Maluku ini, menunjukan peran Laut Banda dan Laut Arafura sebagai kawasan sumber, masih lestari hingga saat ini.
Perniagaan dan Islamisasi di Wilayah Maluku
0/eh: Wuri Handoko, Balai Arkeologi Ambon
Perdagangan dan Islamisasi di wilayah Maluku, merupakan kajian yang saling berkaitan, sebagaimana kajian Islam di wilayah Nusantara lainnya. Proses Islamisasi di wilayah Maluku selain karena perluasan kekuasaan, juga perluasan perdagangan akibat persaingan menguasasi jaringan ekonomi. Perluasan ekonomi melalui jaringan perniagaan, adalah salah satu strategi para mubaligh dalam memperluas atau menyebarkan Islam. Dalam berbagai literatur disebutkan, bahwa para mubaligh, juga didominasi oleh pedagang, artinya mubaligh sekaligus pedagang. Dalam konteks perdangan dan Islamisasi, perdagangan semakin berkembang ketika lembaga Islam terbentuk, selanjutnya terjalin jaringan niaga antar kerajaan. Melalui kajian studi pustaka, tulisan ini berusaha menjelaskan masalah tersebut. Wilayah yang menjadi fokus perhatian kajian ini adalah wilayah Maluku Tengah, hal ini mengingat wilayah ini merupakan wilayah penyebaran Islam terbesar yang berasal dari pusat kekuasaan Islam di Maluku Utara. Perjalanan panjang sejarah terbentuknya jejaring perdagangan intemasional di kawasan Maluku ini.

Pelayaran dan Perdagangan Masa Lalu di Kepulauan Maluku Tenggara
0/eh: Marlon Ririmasse, Balai Arkeologi Ambon
Kepulauan Maluku Tenggara adalah wilayah yang membentang antara Timar hingga Papua. Karakteristik geografis yang kompleks telah membentuk profil budaya kawasan ini yang menjadi sedemikian raya. Sejak awal Masehi wilayah ini juga dikenal sebagai kawasan sumber komoditi eksotik seperti mutiara bulu burung cendrawasih, emas, tenun hingga budak. Hal mana yang membuat kontak dan interaksi niaga dengan dunia luar telah terbentuk sejak berabad silam dan menciptakan profil kompleks sejarah budaya kawasan. Lepas dari peran kunci dimaksud, studi­studi sejarah budaya belum banyak memberikan perhatian atas dinamika kontak dan interaksi niaga di wilayah ini pada masa lalu.Termasuk dalam aspek arkeologis. Makalah ini mencoba mengisi ruang dimaksud dengan mengamati karakteristik aktivitas pelayaran dan perdagangan masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara serta implikasinya atas profil sejarah budaya kawasan. Studi pustaka dilekatkan sebagai pendekatan menjawab permasalah yang diajukan dalam kajian mula ini. Hasil telaah menemukan bahwa Kepulauan Maluku Tenggara telah membentuk suatu sistem pelayaran dan perdagangag yang kompleks masa prasejarah terus berkembang hingga masa kolonial. Implikasi atas proses kompleks ini kiranya dapat diamati dari karakteristik budaya wilayah ini yang raya serta jejak budaya materi yang tersebar luas dalam lingkup kawasan
Perdagangan Cengkih Masa Kolonial dan Jejak Pengaruhnya di Kepulauan Lease 0/eh: Syahruddin Mansyur, Balai Arkeologi Ambon
Jaringan perdagangan masa lampau menempatkan rempah-rempah sebagai komoditi utama. Dalam konteks ini, wilayah Maluku dikenal sebagai surga rempah-rempah, karena dua komoditi utama yang dihasilkan yaitu cengkih (Sysgium aromaticum; Eugenia aromaticum) dan pala (Myristicafragrans). Para pedagang Belanda melalui kongsi dagangnya yang dibentuk pada tahun 1602 yaitu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berhasil merebut hegemoni perdagangan rempah-rempah di Maluku. Topik tulisan ini adalah jejak jaringan perdagangan masa Kolonia! terkait dengan kebijakan monopoli cengkih yang diterapkan oleh VOC sekitar pertengahan abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 di Maluku. Periode ini ditandai dengan pemusatan produksi cengkih di tiga gugus pulau yaitu Nusalaut, Saparua, dan Haruku atau sering disebut Kepulauan Lease. Aspek yang dikaji adalah jejak pengaruh perdagangan cengkih masa Kolonia! di Kepulauan Lease.

Item Type: Article
Subjects: Pendidikan > Kebijakan Umum Kemendikbud
Pendidikan > Kebijakan Umum Kemendikbud > Penelitian dan Pengembangan
Divisions: Badan Penelitian dan Pengembangan > Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Depositing User: Mrs Murnia Dewi
Date Deposited: 05 May 2017 23:36
Last Modified: 05 May 2017 23:36
URI: http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/1330

Actions (login required)

View Item View Item