KALPATARU Majalah Arkeologi vol 21 nomor 2

Simanjuntak, Truman and Utomo, Bambang Budi and Cahyono, M. Dwi and Handoko, Wuri and Ardhiati, Yuke (2012) KALPATARU Majalah Arkeologi vol 21 nomor 2. KALPATARU Majalah Arkeologi, 21 (2). pp. 65-125. ISSN 0126-3099

[img]
Preview
Text (Nekara, Moko, clan Jati Diri Alor , Pengembangan Kawasan clan Kepariwisataan Situs Kompleks Percandian Bumiayu, Vulkano-Historis Kelud: Dinamika Hubungan Manusia-Gunung Api, Aktualisasi Hasil Penelitian Arkeologi di Maluku: Refleksi Arkeologi Maluku tenta)
kalpataru 21 no 2.PDF - Published Version

Download (54MB) | Preview

Abstract

NEKARA, MOKO, DAN JATI DIRI ALOR
Truman Simanjuntak, Retno Handini, dan Dwi Yani Yuniawati Moko merupakan benda unik yang memegang peran penting dalam kehidupan sosial­budaya masyarakat Alor. Menariknya, walaupun benda ini tidak diproduksi di Alor, tetapi tetap dipertahankan secara turun-temurun, tidak sebatas benda pusaka tetapi juga sebagai lambang atau status sosial, mas kawin (belis), alat tukar, alat musik, alat-alat upacara dalam kematian, pendirian rumah, pesta panen, perkawinan, dll. Bahkan konon dahulu, moko memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks. Selain sebagai pengganti nyawa manusia yang dibunuh atau karena kecelakaan, moko berfungsi sebagai benda religius-magis yartg dapat memberi kemakmuran, keberhasilan bagi keluarga, merusak panen bagi yang melanggar ketentuan adat, termasuk sebagai alat untuk menyelesaikan masalah sosial secara adat. Singkatnya moko telah menempati peran yang sangat penting dalam berbagai kisi kehidupan masyarakat Alor sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Benda yang merupakan substitusi nekara ini menjadi jati diri Masyarakat Alor. Oleh sebab itu penggalian, pelestarian, dan aktualisasi nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsiknya menjadi sangat penting bagi penguatan jati diri lokal dalam pengembangan jati diri kebangsaan yang berlandaskan kebhinnekaan

PENGEMBANGAN KAWASAN DAN KEPARIWISATAAN
SITUS KOMPLEKS PERCANDIAN BUMIAYU
Bambang Budi Utomo
Situs Kompleks Percandian Bumiayu yang terletak di Desa Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. Kompleks Percandian bercirikan agama Hindu ini yang sangat luas tidak mungkin diteliti tanpa perencanaan penelitian yang matang. Selain itu Pemanfaatan Situs Bumiayu untuk kepentingan agama, sosial, parawisata, pendidi,kan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan harus mengikuti kaidah-kaidah dan rambu-rambu yang berlaku.

VULKANO-HISTORIS KELUD:
DINAMIKA HUBUNGAN MANUSIA - GUNUNG API
M. Dwi Cahyono
Gunung Kelud adalah satu diantara dua gunung berapi di Jawa Timur yang terbilang paling aktif - selain Gunung Semeru. Aktifitas vulkaniknya berdampak luas. Bukan hanya menimpa wilayah di Kota dan Kabupaten Blitar serta Kabupaten Kediri, namun secara tidak langsung berdampak terhadap daerah-daerah lain di sekitarnya. Pada era kemonarkhian Jawa masa Hindu-Buddha, dampaknya menimpai sebagian wilayah kerajaan-kerajaan di Jawa, sejak masa Kadiri hingga Majapahit. Oleh karena itu, semenjak lampau itu pula telah dilakukan ragam upaya mitigasi terhadap dampak vulkanik Kelud. Sesuai dengan religiositas pada jamannya, salah satu bentuk mitigatif itu adalah religio-mitigatif, yakni mitigasi bencana vulkanik secara religio-magis. Tinjauan "vulkano-historis" dan "antropo-ekologis" terhadap peristiwa vulkanik Kelud lintas masa dengan mendayagunakan sumber data tekstual (epigrafis dan filologis), arkeologis maupun paleo-ekologis bukan tidak mungkin mampu menyingkap: bukan saja misteri kegunungapian Kelud, namun sekaligus alternasi-alternasi upaya mitigasi terhadap kemurkaannya. Setidaknya, tersingkap. konsepsi tentang dinamika relasional antara manusia dan gunung api dalam konteks budaya arkhais di Jawa. Hal serupa bukan tidak mungkin berlaku pada gunung-gunung api lain dalam kurun waktu yang sejaman

AKTUAUSASI HASIL PENELITIAN ARKEOLOGI DI MALUKU
REFLEKSI ARKEOLOGI MALUKU TENTANG PLURALISME, INTEGRASI
SOSIAL, DEMOKRASI, DAN KEDAULATAN BANGSA
Wuri Handoko
Ada pelajaran berharga untuk bangsa ini tentang pemahaman atas pluralisme, demokrasi dan integritas kebangsaan yang sesungguhnya menjadi identitas nasional bangsa kita. Fenomena kebudayaan masa lampau yang dapat kita jamah melalui bukti-bukti tinggalan arkeologi, nilainilai filofosis dan budaya yang telah kita interpretasikan sesungguhnya mampu menjadi jembatan reintegrasi sosial sebagai bagian dalam membangun kedaulatan bangsa. Maluku, sebagai wilayah yang masyarakatnya majemuk dan pernah memiliki pengalaman pahit konfliksosial, adalah wilayah dengan potensi arkeologi yang berlimpah, dan dari yang berlimpah itu masih sebagian kecil saja yang sudah ter.ungkap. Dari kecilnya data arkeologi yang terungkap, ternyata meyimpan makna dan nilai-nilai humanisme, pluralisme, demokrasi, yang telah berurat berakar yang bisa menjadi media membangun kemanusiaan yang lebih beradab, perdamaian, toleransi, persaudaraan, yang meskipun sempat tercerabut, tidak sampai merusak akarnya, yang jika ditanam kembali dengan baik, mampu bertumbuh dan berkembang sebagai modal membangun peradaban bangsa yang lebih maju dan bermartabat.

KAJIAN ARTIS TIK LIDAH API KEMERDEKAAN
DI TUGU NASIONAL ATAU MONUMEN NASIONAL
Yuke Ardhiati
Lidah Api Kemerdekaan sebagai simbol dinamis 'api' adalah ekspresi Kebesaran Bangsa Indonesia gagasan Presiden Soekarno menjadi mahkota Tugu Nasional atau Monumen Nasional. Kehadirannya bukan saja sebagai simbol estetis semata, agar tampak indah dari semua · sudut pandang, tetapi juga berperan sebagai pelindung ruang lift di Puncak Tugu. Kedudukannya di atas ketinggian 115 m dari permukaan tanah menyebabkan kesulitan dalam cara penggambaran serta pemugaran. Berdasar penelitian, diketahui kondisi Api Kemerdekaan yang telah mengalami degradasi/kerusakan pada lapisan goldleaf di permukaan dasar Lidah Api. Dengan demikian diperlukan pemikiran-pemikiran ke depan untuk menemukan strategi konservasi bagi kelestarian Lidah Api Kemerdekaan tersebut. Selain itu ditemukan kesulitan cara pendokumentasian artefak karena lokasi tapak berdirinya Lidah Api tidak memungkinkan Lidah Api disaksikan secara frontal. Di dalam dokumen pribadi Arsitek Soedarsono (alm.) ditemukan sejumlah gambar arsitektur LidahApi Kemerdekaan sebagai pemandu penggambaran ulang Lidah Api Kemerdekaan untuk menjadi basis konservasi lanjut.

Item Type: Article
Subjects: Pendidikan > Kebijakan Umum Kemendikbud > Penelitian dan Pengembangan
Depositing User: Mrs Murnia Dewi
Date Deposited: 05 May 2017 23:36
Last Modified: 05 May 2017 23:36
URI: http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/1329

Actions (login required)

View Item View Item