KALPATARU Majalah Arkeologi vol 20 nomor 1

Simanjuntak, Truman and Indrajaya, Agustijanto and Inagurasi, Libra Hari and Ririmasse, Marlon N.R. and Intan, M. Fadhlan S (2011) KALPATARU Majalah Arkeologi vol 20 nomor 1. KALPATARU Majalah Arkeologi, 20 (1). 01-77. ISSN 0126-3099

[img]
Preview
Text (disajikan adalah rasa penasaran dan keheranan terhadap temuan kapak genggam di Halmahera oleh seorang ahli Prasejarah Belanda menggelitik Truman Simanjuntak dkk, Pada masa Hindu-Buddha, lingga dan yoni merupakan benda arkeologis yang mempunyai peranan pen)
kalpataru 20 (1).PDF - Published Version

Download (53MB) | Preview

Abstract

BENARKAH KAPAK GENGGAM DITEMUKAN DI HALMAHERA?
Truman Simanjuntak, Bagyo Prasetyo, Dwi Yani Yuniawati Umar
Artikel ini mempertanyakan keberadaan kapak genggam di Halmahera yang fotonya dimuat pada sampul dalam terbitan: "Modern Quaternary Research in Southeast Asia" no. 18, tahun 1983/1984. Menurut keterangan pada foto itu, kapak genggam tersebut ditemukan oleh Van Panhuys di Halmahera baratdaya, tanpa menyebut nama situs atau lokasi penemuan yang jelas. Sebagai alat khas yang jarang ditemukan di Indonesia, temua ini menarik ditelusuri, karena jika memang benar, akan memberikan pandangan baru tentang persebaran paleolitik, khususnya Budaya Acheulean. Namun pengecekan langsung di lapangan, tidak menemukan situs Paleolitik, apalagi alat khas kapak genggam di pulau ini. Data regional, berupa rekaman arkeologi tentang hunian manusia tertua di pulau ini pun tidak lebih dari ca. 30 kya.

KARAKTERISTIK TEMUAN YONI DI SEKITAR
CANDI BOROBUDUR
Agustijanto Indrajaya
Lingga-yoni sebagai representasi Dewa Siwa dan Dewi Uma sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa Kuno sejak abad ke-8 Masehi dan seringkali dikaitkan dengan lambang kesuburan. Lingga-yoni kerap ditem?1<an di lingkungan candi-candi Hindu; kadang-kadang dalam kondisi tidak lengkap (hanya bagian yoni). Demikian pula sejumlah yoni ditemukan dalam berbagai bentuk dan hiasan dalam sebuah survei yang dilaksanakan di Candi Borobudur. Variasi bentuk dan hiasan yoni­yoni tersebut menarik untuk dibahas lebih lanjut.

BENTENG ORANJE DI TERNATE:
PENGGUNAANNYAABAD KE-17-20 M.
Libra Hari Inagurasi*)
Benteng kolonial, peninggalan berasal dari masa kehadiran bangsa Eropa, banyak dite­mukan di wilayah Indonesia. Bangsa Eropa seperti bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda, mulai berdatangan di kepulauan Nusantara sejak abad ke-16 M. Jejak material orang-orang Eropa yang tampak dominan ialah benteng. Pendirian benteng oleh orang-orang Eropa ketika itu dengan pertimbangan, kebutuhan untuk tempat berlindung, pertahanan, dan pusat perdagangan. Kawasan timur Indonesia yakni daerah Maluku Utara, merupakan wilayah di Indonesia yang memiliki ban­yak peninggalan benteng kolonial abad ke-16 dan ke-17 M. Salah satu benteng kolonial di Maluku Utara ialah benteng Oranje, yang berada di kota Ternate. Beriteng Oranje didirikan oleh Belanda pada abad ke-17 M.

KOLEKSIBUDAYABENDAWI MALUKU TENGGARA
DI MUSEUM ETNOLOGI NASIONAL LEIDEN:
POTENSINYA BAGI PENGEMBANGAN KAilAN ARKEOLOGIS
DI KEPULAUAN MALUKU
Marlon Nr Ririmasse
Museum Etnologi Nasional di Leiden, Belanda dikenal sebagai institusi dengan koleksi budaya bendawi Nusantara terbesar di Eropa. Hubungan sejarah yang panjang antara Indonesia dan Belanda telah mengantar ribuan objek yang kini langka dan bahkan punah di tempat asalnya menjadi koleksi salah satu museum etnologi tertua di dunia ini. Kepulauan Maluku Tenggara juga menjadi salah satu wilayah sumber utama bagi profil raya museum. Tulisan ini mencoba meninjau koleksi objek Kepulauan Maluku Tenggara yang ditampilkan dalam eksebisi permanen di Ruang Nusantara Museum Etnologi Nasional Leiden dengan menggunakan perspektifbiografi budaya bendawi. Lebih jauh dibuka ruang diskusi untuk melihat kemungkinan sumbangan kajian atas benda-benda spesifik ini bagi studi arkeologi di Kepulauan Maluku Tenggara.

ANALISIS TEKNOLOGI LABORATORIS TEMBIKAR
DARI SITUS MINANGA SIPAKKO, KECAMATAN KALUMPANG,
KABUPATEN MAMUJU, PROVINS! SULAWESI BARAT
M. Fadhlan S. Intan
Tembikar merupakan salah satu sisa benda budaya yang paling sering ditemukan dalam penelitian arkeologi, yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Tembikar memegang pe,anan penting dalam kehidupan masyarakat masa lampau, baik. dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan religius.

Item Type: Article
Subjects: Pendidikan > Kebijakan Umum Kemendikbud > Penelitian dan Pengembangan
Divisions: Badan Penelitian dan Pengembangan > Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Depositing User: Mrs Murnia Dewi
Date Deposited: 27 Apr 2017 03:03
Last Modified: 27 Apr 2017 03:03
URI: http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/1326

Actions (login required)

View Item View Item