Harkatiningsih, Naniek and Sofion, Harry Octavianus and -, Sunarningsih and Saptono, Nanang and Santiko, Hariani (2013) AMERTA 31 nomor 2. AMERTA 31 nomor 2, 31 (2). pp. 81-149. ISSN 0215-1324

[img]
Preview
Text (Salah satu bukti jejak pelayaran masa lampau adalah penemuan kapal-kapal karam dengan berbagai jenis muatannya. Identifikasi temuan, pola sebaran hingga komoditas dan jaringa, Kerusakan Situs Arkeologi di Kalimantan Selatan: Dampak N egatif Aki bat Kegiat)
amerta31(2).pdf - Published Version

Download (22MB) | Preview

Abstract

MUATAN INTAN SHIPWRECK ABAD KE-10:
VARIABILITAS DAN KRONOLOGI
Naniek Harkantiningsih
Dalam dua dasawarsa ini, banyak penemuan kapal karam dengan berbagai jenis muatannya di perairan Nusantara. Sebagian besar peninggalan kapal karam tersebut ditemukan di perairan Nusantara bagian barat (perairan Sumatra-Jawa). Ini suatu kenyataan, bahwa perairan laut Nusantara memiliki tinggalan kapal karam yang sangat banyak. Salah satu kapal karam yang ditemukan, ialah Intan Shipwreck. Artikel ini akan membahas variabilitas dan kronologi muatan kapal karam yang telah dieksplorasi pada tahun 1997. Kemudian hasil identifikasi muatan kapal itu, dibandingkan dengan tinggalan arkeologi yang ditemukan dari hasil penelitian di situs-situs arkeologi. Sebagian besar muatan kapal karam ini, dapat dipastikan sebagai barang komoditi yang akan didistribusikan ke negara konsumen. Pola persebaran dan persamaan muatan kapal karam di situs arkeologi memperkuat adanya jaringan pelayaran dan perniagaan, baik jarak jauh maupun jarak dekat, dalam konteks jamannya.

SITUS KAPAL KARAM GELASA
DI SELAT GASPAR, PULAU BANGKA, INDONESIA
Harry Octavianus Sofian
Wilayah perairan Nusantara merupakan budaya, ekonomi dan politik sejak beratus tahun yang lalu. Perairan Nusantara berfungsi menjadi penghubung interaksi berbagai etnis, pedagang dan menyebarkan pengaruh satu sama lain. Interaksi itu mewariskan tinggalan-tinggalan arkeologi bawah air yang tersebar di perairan Nusantara. Pembahasan ini akan menginformasikan hasil penelitian untuk melihat tinggalan arkeologi bawah air, yaitu kapal karam di perairan Selat Gaspar. Penelitian ini menghasilkan bukti-bukti tinggalan arkeologi bawah air berupa kapal karam yang menggunakan bahan kayu dan tembaga, keramik, botol-botol, tulang, meriam, batu pemberat kapal (ballast) pasak, dan beberapa artefak yang belum dapat diidentifikasi.

ERUSAKAN SITUS ARKEOLOGI DI KALIMANTAN SELATAN:
DAMPAK NEGATIF AKIBAT KEGIATAN MASYARAKAT
DAN PEMERINTAH DAERAH
Sunarningsih
Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Abstrak. Seperti halnya di daerah lain di Indonesia, jumlah situs-situs arkeologi di wilayah Kalimantan Selatan terbilang cukup banyak. Ada dua jenis situs di wilayah Kalimantan Selatan ini, yaitu situs tertutup dan situs terbuka. Kedua jenis situs tersebut sudah ada yang diteliti secara intensif ada juga yang belum, dan sebagian sudah ditetapkan menjadi Benda Cagar Budaya (BCB). Fenomena yang terjadi pada saat ini adalah masih terjadi aktivitas yang merusak wilayah situs baik yang sudah dilindungi maupun yang belum. Kegiatan tersebut dilakukan baik oleh masyarakat umum di lingkungan situs maupun atas kebijakan pemerintah daerah setempat. Makalah ini bertujuan untuk melihat kembali kerusakan situs-situs arkeologi di wilayah Kalimantan Selatan akibat dampak negatif dari aktivitas masyarakat, dan berusaha mendapatkan strategi untuk mengurangi kegiatan yang merugikan. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan induktif. Data dikumpulkan dari hasil studi pustaka, yaitu dari laporan yang tersimpan di perpustakaan Balai Arkeologi Banjarmasin, dan dari hasil pengamatan penulis saat melakukan penelitian arkeologi. Berdasarkan hasil analisis dari masing-masing kasus, dapat diketahui bahwa kebutuhan ekonomi masyarakat dan pembangunan oleh pemerintah daerah yang banyak mendorong terjadinya kerusakan situs. Aktivitas yang merusak dilakukan karena masih rendahnya pemahaman akan pentingnya sebuah situs purbakala dan masih lemahnya penerapan sangsi terhadap pelanggaran Undang-undang Cagar Budaya.

ERMUKIMAN KUNA DI KAWASAN WAY SEKAMPUNG,
LAMPUNG, PADA MASA ŚRIWIJAYA
Nanang Saptono
Lampung pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Śriwijaya. Hal ini ditandai oleh temuan Prasasti Palas Pasemah, Bungkuk, dan Batu Bedil yang merupakan prasasti dari masa Śriwijaya. Prasasti, terutama prasasti peringatan, pasti ditempatkan di areal permukiman. Selain lokasi prasasti, kawasan permukiman dapat dilacak melalui tinggalan arkeologis. Melalui pendekatan arkeologi keruangan dapat diperoleh gambaran tentang pola permukiman di sepanjang aliran Way Sekampung. Pada dasarnya kawasan di sepanjang sungai dapat dibedakan menjadi kawasan hulu dan hilir. Kawasan hulu cenderung merupakan kawasan masyarakat penganut Hindu, sedangkan di hilir merupakan masyarakat penganut Buddha. Pada kedua permukiman kelompok masyarakat tersebut juga terdapat jejak religi budaya megalitik.

HE VEDIC RELIGION IN NUSANTARA*
Hariani Santiko
Agama Weda di Nusantara. Pedagang-pedagang yang berlayar dari India dan Asia Tenggara berperanan penting dalam menyebarkan agama-agama India di Nusantara. Para brahmin diundang oleh penguasa-penguasa lokal untuk melegitimasi status baru mereka dan melaksanakan upacara-upacara bagi mereka. Misalnya, menurut sejumlah prasasti yūpa dari abad ke-4 Masehi, Raja Mūlavarman dari Kutai, Muarakaman, Kalimantan Timur, melakukan pekerjaan-pekerjaan mulia (punya-), dengan memberi sumbangan pada persembahan kurban (yajña) yang dilakukan di suatu punyatama. ksetra yang dikenal dengan nama Vaprakeśvara. Yajñas- yajña dilaksanakan oleh para vipra (semacam brahmin) yang datang ke Kalimantan dari berbagai tempat. Dengan membandingkan data arkeologis dan sumber-sumber tertulis, misalnya prasasti-prasasti berbahasa Sansekerta, kita dapat menyimpulkan bahwa agama Veda merupakan agama India pertama yang dianut oleh para penguasa di Nusantara. Setidaknya tiga raja telah mengundang para brahmin telah untuk melakukan yajña- yajña, misalnya Raja Mūlavarman (dari abad ke-4 Masehi), Raja Pūrnavarman dari Tārumanagara (pada abad ke-5 Masehi), dan Raja Gajayana dari Kanjuruhan, Jawa Timur (pada abad ke-7 Masehi). Raja yang disebutkan terakhir bahkan menganut Sivaisme (Hindu-Saiva), namun ia mengundang pendeta-pendeta Veda untuk melakukan yajña Veda. Ritual-ritual Veda mungkin dilakukan pula di Kota Kapur, Bangka. Tinggalan berupa altar-altar Veda, fragmen arca Visnu, dan temuan-temuan lain ditemukan di situs tersebut.

Item Type: Article
Subjects: Pendidikan > Kebijakan Umum Kemendikbud > Penelitian dan Pengembangan
Divisions: Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan > Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Depositing User: Mrs Murnia Dewi
Date Deposited: 21 Apr 2017 01:14
Last Modified: 21 Apr 2017 01:14
URI: http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/1293

Actions (login required)

View Item View Item