AMERTA 26

Intan, M. fadhlan S and Wiradnyana, Ketut and Kartakusuma, Richadiana K and Najib, Tubagus and -, Sarjiyanto and -, Vita (2008) AMERTA 26. AMERTA, 26 (-). 01-92. ISSN 0215-1324

[img]
Preview
Text (Geologi di Pacitan, Melacak Konsep Religi Nias, Unsur-unsur Religi di Tuban,)
amerta26.PDF - Published Version

Download (84MB) | Preview

Abstract

GEOLOGI SITUS PALEOLITIK PACITAN BAGIAN TIMUR
KABUPATEN PACITAN, PROVINS! JAWA TIMUR
M. Fadhlan S. lntan
ABSTRAK. Lokasi Situs Paleolitik Pacitan bagian Timur terletak di Km-10 hingga Km-18 sebelah timur Kota Pacitan ke arah Kabupaten Trenggalek. Situs Paleolitik ini meliputi wilayah Sungai Ke­dunggamping (Sungai Padi), Sungai Ngrendeng-Tulakan, dan Sungai Lorog.
Bentang alam wilayah situs ini termasuk pada satuan morfologi dataran, satuan morfologi bergelombang lemah, satuan morfologi bergelombang kuat, dan satuan morfologi karst. Ketinggian situs berada pada O - 900 meter di atas permukaan air laut.
Ketiga sungai itu termasuk pada sungai berstadia Tua (old river stadium) dan Dewasa-Tua (old-mature), dengan kenampakan pola pengeringan Trellis dan Rectangular. Selain itu, termasuk pada Sungai Periodis, Sungai Konsekuen, dan Sungai Subsekuen.
Batuan penyusun wilayah situs adalah breksi vulkanik, konglomerat, satuan batuan beku, batupa­sir, tufa, batulempung, batulanau, satuan batu gamping, dan endapan aluvial. Kisaran umurnya ialah dari Oligosen hingga Holosen. Struktur geologi yang melewati wilayah situs adalah Lipatan (fold) dari jenis sinklin, dan Patahan (fault) dari jenis sesar geser.
Undak-undak sungai yang teramati termasuk pada undak sungai pertama yang masih berhubungan langsung dengan muka air sungai. Gangguan struktur geologi ikut mempengaruhi keletakan dan ke­beradaan undak-undak sungai itu sendiri.
Alat-alat litik terdiri dari batuan chert, andesit, jasper, batugamping kersikan, fosil kayu, kalsedon, .dan batugamping. Sumber bahan baku alat-alat litik tersebut umumnya berada di alur­alur sungai dalam bentuk kerikil, kerakal, dan boulder batuan.

MELACAK KONSEP RELIGI LAMA
DARI BERBAGAI FOLKLOR PADA MASYARAKAT NIAS
Ketut Wiradnyana
Melimpahnya tinggalan arkeologis di Nias memerlukan pemahaman yang baik akan ke­budayaan masa lalu. Salah satu unsur budaya yang erat berkaitan dengan tinggalan budaya dimaksud adalah unsur religi. Di dalam religi itu sendiri memiliki konsep-konsep yang sangat sulit di lacak lagi mengingat masyarakat Nias tidak memiliki budaya tulis dan sudah berubahnya religi masyarakat.
Dalam upaya memahami tinggalan arkeologis yang ada tersebut maka diperlukan pengetahuan akan konsep-konsep religi yang akan dilacak melalui berbagai folklor yang ada hingga kini. Folklor dimak­sud tidak hanya terbatas pada folklor lisan akan tetapi juga folklor bukan lisan (tinggalan materi).

KONDISI KEHIDUPAN KEAGAMAAN
MASA MAJAPAHIT
BERDASARKAN SOMBER TERTULIS DAN
DATA ARKEOLOGI
Richadiana Kadarisman Kartakusuma
Keagamaan pada masa Majapahit yang paling menonjol adalah semaraknya pusat­pusat keagamaan dengan memuja tokoh tertentu yang dianggap menyelamatkan dunia. Keagamaan yang telah lebih berkembang pada masa Majapahit akhir seiring dengan memudarnya Hindu­Budha.
Para sarjana menyebut kondisi keagamaan pada masa Majapahit akhir sebagai milenarisme. Unsur kepercayaan yang secara sadar diangkat kembali ke permukaan oleh para resi untuk mengim­bangi hadirnya inovasi Islam. Unsur kepercayaan dengan ciri kehidupan spiritual yang dilang­sungkan di lingkungan-lingkungan sunyi dan terpencil semacam padepokan di pewayangan (?).
Fokus ajaran dengan menampilkan tokoh Bhima sebagai simbol utama ruwat dan kalepasan, karenanya upacara ruwatan pada masa ini menjadi sangat penting. Tokoh Bima, di sini dihubung­kan dengan "Pahlawan Keagamaan" berkenaan dengan unsur bersatunya kembali Kawula Gusti yaitu Suksma diri dan Maha Suksma. Selaras peristiwa yang dialami Bhima tatkala keluar dari dirinya dan memperoleh wejangan dari Dewaruci dan kembali kepada saudara-saudaranya.
Nampak bahwa kondisi keagamaan masa Majapahit akhir telah mempertegas hubungan kon­vensional dan kepercayaan lingkungan alam yang sesungguhnya menjadi dasar representasi men­tal yang pernah berlaku sejak awal dengan pokok pemujaan pada nenek moyang.

UNSUR-UNSUR RELIGI
PADA KUBUR-KUBUR ISLAM DI TOBAN
Tubagus Najib
ebelum Islam masuk ke Indonesia, di Indonesia sudah terdapat sistem kepercayaan selain Islam. Kepercayaan-kepercayaan tersebut tampaknya hidup subur pada wilayah kubur-kubur Islam. Bagaimana dengan kubur-kubur Islam di Tuban yang merupakan pusat penyebaran Islam dan terdapat beberapa tokoh-tokoh penting dalam penyebaran Islam di Jawa, kubumya terdapat di Tuban.
Adakah unsur-unsur kepercayaan lain selain Islam pada kubur-kubur Islam di Tuban. Bagaimana sikap Islam terhadap unsur-unsur lain yang terdapat pada kubur-kubur Islam. Apakah ini salah satu bentuk kompromi ataukah penyimpangan. Kalau itu merupakan bentuk kompromi mengapa dan kalau ha! itu penyimpangan mengapa ?

MENCERMATI KEMBALI KOMODITAS LADA
MASA KESULTANAN BANTEN ABAD KE-16-19
Sarjiyanto
alam banyak sumber sejarah telah disebutkan tentang lada sebagai komoditas penting yang diperdagangkan di pelabuhan Banten sejak periode kerajaan Sunda Pajajaran hingga pada ke­sultanan Banten yang muncul pada abad ke XVI. Dari bukti sejarah daniakta arkeologi yang terbatas dapat tergambar perkebunan lada telah diusahakan di wilayah Banten dan meluas ke Lampung tatkala permintaan pasar dunia meningkat akan produk ini.
Data arkeologi berupa toponimi Pamarican di situs Banten pesisir dan juga dalung-dalung atau prasasti tembaga dari Sultan Banten banyak terkait dengan lada. Meskipun jarang sekali disebut, na­mun hingga abad XIX perkebunan Jada masih diupayakan di wilayah Banten. Dari data arsip Belanda tergambar sisa-sisa kaum bangsawan Banten masih berperan dalam pengolahan produk lada di wilayah ini. Data paling aktual pada beberapa lokasi di Banten masih terdapat kqntong-kantong perkebunan Jada yang tersisa terutama di wilayah Pandeglang dan sedikit di Serang.

PERUBAHAN LINGKUNGAN VEGETASI DI KOMPLEKS
SITUS CANDI PADANG ROCO DAN CANDI PULAU SAWAH
SU1VIATERA.BARAT BERDASARKAN ANALISIS PALINOLOGY
Vita
Situs Padang Roco dan Pulau Sawah merupakan situs-situs peninggalan purbakala berupa bangunan atau bagian dari bangunan yang dibuat dari bahan yang tahan lama berupa bata dan merupakan bangunan suci yang disebut sebagai candi. Bangunan ini dimanfaatkan sebagai tempat atau pusat upacara keagamaan yang diselenggara­kan untuk kepentingan masyarakat pendukungnya.
Berdasarkan analisa palinology (serbuk sari yang terendapkan di dalam tanah) maka makalah ini mengemukakan tentang perubahan lingkungan vegetasi masa lampau di kompleks Candi Padang Roco dan Kompleks Candi Pulau Sawah di Sumatera Barat hingga terbentuknya keadaan lingkungan vegetasi sekarang.
Dari jenis pollen sedimen yang didapatkan, maka keadaan lingkungan vegetasi pada masa Situs Candi Padang Roco dan Pulau Sawah masih berfungsi dapat diketahui. Dari data tumbuhan Genis pollen sedimen) tersebut jika dibandingkan dengan keadaan lingkungan vegetasi saat ini, maka keadaan lingkungan vegetasi saat ini telah menga­lami perubahan.

Item Type: Article
Subjects: Pendidikan > Kebijakan Umum Kemendikbud
Divisions: Badan Penelitian dan Pengembangan > Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Depositing User: Mrs Murnia Dewi
Date Deposited: 25 Apr 2017 05:07
Last Modified: 25 Apr 2017 05:07
URI: http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/1285

Actions (login required)

View Item View Item