Orang Jawa Di Kabawetan Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu : studi tentang sejarah sosial ekonomi di Kelurahan Tangsi Baru

Ajisman, Ajisman and Jumhari, Jumhari (2016) Orang Jawa Di Kabawetan Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu : studi tentang sejarah sosial ekonomi di Kelurahan Tangsi Baru. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, Padang. ISBN 978-602-655-06-2

[img] Text
ORANG JAWA DI KABAWETAN OK.pdf

Download (12MB)

Abstract

Buku ini dapat memberikan sekelumit gambaran tentang sejarah sosial ekonomi masyarakat Jawa yang ada di Kabawetan khususnya di Kelurahan Tangsi Baru Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. Masyarakat Jawa dalam sejarahnya telah ada di Kabawetan semenjak zaman Belanda, mereka di sumberngkan melalui sistem
kerja kuli kontrak. Orang Jawa yang ada di Kabawetan telah berkembang dan telah menempati beberapa desa dan kelurahan di Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang. Keberadaan orang Jawa di Kabawetan telah ikut mewarnai dinamika perkembangan sejarah sosial ekonomi masyarakat yang ada di Kabawetan dan khususunya
Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. Perkebunan teh Kabawetan pada awal berdirinya mempekerjakan kuli kontrak dari Pulau Jawa. Selain mensumberngkan kuli kontrak langsung dari Jawa,
perkebunan juga menyediakan tanah bagi bekas kuli kontrak yang bersedia menetap dan bekerja sebagai kuli bebas. Pada zaman kolonisasi perkebunan yang ada di Bengkulu kadang mengalami kesulitan untuk mensumberngkan kuli kontrak dari Pulau Jawa sehingga perkebunan perlu menggunakan kuli lokal. Hal ini dialami oleh perkebunan Kabawetan di tahun 1920-an saat perkebunan mengalami kekurangan kuli. Saat itu perkebunan tidak dapat melakukan perluasan lahan, sedangkan lahan yang telah ditanami dalam keadaan terlantar. Akibatnya, produksi kopi menurun, yaitu pada tahun 1920 perkebunan masih menghasilkan 4.957 pikul, tetapi pada tahun 1921 menurun menjadi 2.281 pikul.2 Untuk mengatasi hal tersebut Perkebunan Kabawetan
menggunakan kuli lokal, yaitu dari Pasemah Ulu Manna dan Sungai Pagu (salah satu Kecamatan di Solok Selatan, Sumatera Barat sekarang). Mereka bekerja di perkebunan berdasarkan kontrak antara setengah sampai dua tahun. Pada tahun 1921 dari jumlah kuli sebanyak 249 orang lakilaki dan 187 orang wanita, hanya ada 46 orang kuli lakilaki dan 29 kuli wanita yang bersedia menansumberngani kontrak selama dua tahun.

Item Type: Book
Subjects: Pendidikan > Siswa
Pendidikan > Kebudayaan > Nilai Budaya
Pendidikan > Kebudayaan > Sejarah Indonesia
Pendidikan > Kebudayaan > Penelitian kebudayaan
Pendidikan > BUKU
Divisions: Direktorat Jenderal Kebudayaan > Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan > BPNB Sumatera Barat
Depositing User: Mr Mardoni Mardoni
Date Deposited: 26 Feb 2019 02:56
Last Modified: 26 Feb 2019 02:56
URI: http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/10648

Actions (login required)

View Item View Item