Bandar Sibolga di Pantai Barat Sumatera pada abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20

Mhd., Nur (2015) Bandar Sibolga di Pantai Barat Sumatera pada abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, Padang. ISBN 9786028742955

[img] Text
3. BAB 1.pdf

Download (290kB)
[img] Text
4. BAB 2.pdf

Download (423kB)
[img] Text
5. BAB 3.pdf

Download (593kB)
[img] Text
6.BAB 4.pdf

Download (850kB)
[img] Text
7. BAB 5.pdf

Download (389kB)
[img] Text
8.BAB 6.pdf

Download (656kB)
[img] Text
9.BAB 7.pdf

Download (113kB)
[img] Text
10.DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (273kB)

Abstract

Dalam kesenian pesisir Teluk Tapian Nauli Sikambang, terselip bait pantun yang mengingatkan bahwa bandar Sibolga didirikan oleh para pekerja yang terdiri dari orang rantai yang sedang menjalani hukuman dari pemerintah Hindia Belanda. Sikambang adalah seni khas daerah pesisir Tapian Nauli yang terdiri dari seni tari yang diiringi dengan nyanyian. Di antara sampiran dan isi pantun tersebut ada bait yang berbunyi sebagai berikut: “Sibolga jolong basusuk; Banda digali orang rantai; Jangan manyasa tuan bisuk; Kami anak dagang sansai” (Sibolga mula-mula memiliki sungai atau bandar buatan; Bandar digali orang rantai; Jangan menyesal tuan besok; Kami anak dagang sansai atau menderita). Isi pantun itu menyatakan penderitaan orang yang sedang merantau, tetapi sampirannya menjelaskan pula bahwa pada mulanya bandar Sibolga didirikan dengan menggali parit yang dikerjakan oleh para hukuman dalam kondisi terikat dengan rantai.
Bandar Sibolga menjadi tempat pusat perdagangan yang selalu dikunjungi perahu dagang tradisional dan kapal moderen, seperti kapal api, kapal motor, kapal layar, dan kapal pemerintah Hindia Belanda. Selain berdagang dengan sesama penduduk sepanjang pantai barat, penduduk Sibolga juga berdagang dengan saudagar asing, terutama dengan pedagang Gujarat dan Arab. Oleh sebab itu setiap pedagang di kawasan itu mengenal Sibolga sebagai bandar dagang. Mereka mengenal bandar itu baik melalui cerita para saudagar yang berdagang langsung ke sana. Sambil menjual barang dagangan, mereka juga membeli barang kebutuhan lainnya untuk dijual kembali di tempat asal. Akan tetapi kegiatan perdagangan di Bandar Sibolga pada pertengahan abad ke-20 mulai menurun karena perannya digantikan oleh bandar lain, seperti Emmahaven dan Belawan. Pada tahun 1892 bandar Padang (Emmahaven) telah selesai dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Begitu juga halnya pada tahun 1922 bandar Belawan di pantai timur Sumatera telah semakin berfungsi untuk mengekspor barang komoditi dari perkebunan Deli dan sekitarnya. Dengan demikian semua kegiatan perdagangan dan pengapalan barang yang biasanya dilakukan di bandar Sibolga diambil alih oleh kedua bandar tersebut.

Item Type: Book
Subjects: Pendidikan > Siswa
Pendidikan > Kebudayaan > Penelitian
Pendidikan > Kebudayaan > Sejarah Indonesia
Pendidikan > Kebudayaan > Warisan budaya
Pendidikan > BUKU
Divisions: Direktorat Jenderal Kebudayaan > Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan > BPNB Sumatera Barat
Depositing User: Mr Mardoni Mardoni
Date Deposited: 26 Feb 2019 02:14
Last Modified: 26 Feb 2019 02:14
URI: http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/10261

Actions (login required)

View Item View Item